Harian Berita — Kabut asap yang menyelimuti Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menjadi perhatian Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh kondisi tersebut, terutama karena tingginya konsentrasi partikel polusi udara PM2.5 yang berbahaya bagi kesehatan.
Peringatan itu disampaikan Budi melalui akun Instagram pribadinya pada Minggu (25/10). Ia menggambarkan kualitas udara di Palangka Raya sedang memburuk akibat kabut asap yang sangat tebal.
“Kondisi udara di Palangka Raya, Kalimantan Tengah saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kabut asapnya sangat tebal dengan tingkat polusi PM 2.5 yang sangat tinggi. Partikel ini sangat kecil dan berbahaya,” ujar Budi.
Masyarakat pun diminta meningkatkan kewaspadaan untuk mengurangi paparan polutan, khususnya bagi mereka yang harus beraktivitas di luar ruangan ketika kabut asap masih menyelimuti wilayah tersebut.
PM2.5 Bisa Masuk hingga ke Paru-Paru
PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil, yakni berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya, partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.
Paparan PM2.5 dapat memicu gangguan kesehatan, mulai dari iritasi dan keluhan pernapasan hingga meningkatkan risiko masalah kesehatan yang lebih serius. Besarnya risiko dipengaruhi oleh tingkat polusi, lamanya paparan, serta kondisi kesehatan seseorang.
Anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki penyakit pernapasan atau gangguan jantung perlu memberikan perhatian khusus terhadap kualitas udara. Namun, masyarakat secara umum juga perlu mengambil langkah perlindungan selama kondisi polusi tinggi.
Menkes Ingatkan Masker Harus Terpasang Rapat
Budi menekankan bahwa perlindungan terhadap kabut asap tidak cukup hanya dengan mengenakan masker secara berlapis. Menurutnya, penggunaan masker yang tidak menutup wajah dengan rapat dapat membuat udara tercemar masuk melalui celah di sekeliling masker.
“Makanya, sekadar mendobel masker saja tidak akan efektif dan bahkan salah kaprah kalau pinggirannya tidak rapat,” tuturnya.
Karena itu, masyarakat perlu memastikan masker terpasang dengan benar, terutama pada bagian hidung dan pipi. Celah di sekitar wajah dapat mengurangi efektivitas penyaringan partikel yang terkandung dalam asap.
Untuk menghadapi polusi partikel halus, masker respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat dapat memberikan perlindungan lebih baik dibandingkan masker kain biasa. Meski demikian, efektivitasnya tetap bergantung pada kualitas masker dan kesesuaian pemasangan di wajah.
Selain menggunakan masker yang sesuai, warga sebaiknya membatasi kegiatan di luar ruangan ketika polusi sedang tinggi. Aktivitas fisik berat di luar ruangan juga perlu dikurangi karena dapat meningkatkan jumlah udara tercemar yang terhirup.
Warga dengan Batuk Berat dan Sesak Napas Diminta Periksa
Budi turut mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala kesehatan yang muncul selama terpapar kabut asap. Warga yang mengalami batuk berat atau sesak napas diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan.
Keluhan pernapasan yang memburuk perlu ditangani dengan cepat, terutama pada orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Jika sesak napas terjadi secara berat atau mendadak, pertolongan medis darurat perlu segera dicari.
Masyarakat juga disarankan mengurangi sumber polusi di dalam rumah, menutup pintu dan jendela saat asap pekat masuk ke lingkungan, serta menggunakan penyaring udara jika tersedia.
Langkah-langkah tersebut dapat membantu mengurangi paparan partikel halus selama kondisi udara belum membaik. Warga juga perlu memantau informasi kualitas udara dan mengikuti imbauan dari otoritas setempat agar dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi lingkungan.
